Obat Anti Galau

Untuk terakhir di hari ini, (real post hari ini). Saya ingin berbagi sebuah lagu. Yup, lagu slow berbahasa Jepang. Judulnya One More Time, One More Chance oleh Masayoshi Yamazaki. Lagu ini dirilis pada tahun 1997. Lagu ini jadi booming setelah dijadikan soundtrack sebuah anime berjudul 25 cm per seconds yang ceritanya dibuat oleh Makoto Shinkai. Saya sendiri belum nonton filmnya, baru baca sinopsisnya. Dan lagu ini cukup sesuai dan mewakili anime tersebut.

Lagu ini tiba-tiba muncul di youtube setelah saya salah pilih video di youtube waktu Sabtu malam sekitar jam 11an. Saat mendengar lagunya, nadanya lumayan enak didengar. Dan pas nyari liriknya. Somehow, liriknya pas banget dan menyentuh. Daripada saya ceritakan tentang apa, lebih baik saya kasih aja videonya..

 

Lirik (romaji dan english), ga saya terjemahkan ke bahasa Indonesia karena dengan skill saya takutnya malah jadi ga pas. romaji dan translasi bahasa inggris kredit untuk uta-net.

English:

How much more do I have to lose, before my heart is forgiven?
How many more pains do I have to suffer, to meet you once again?
One more time, oh seasons, fade not
One more time, when we were messing around

Whenever we disagreed, I would always give in first
Your selfish nature made me love you even more
One more chance, the memories restrain my steps
One more chance, I cannot choose my next destination

I’m always searching, for your figure to appear somewhere
On the opposite platform, in the windows along the lane
Even though I know you couldn’t be at such a place
If my wish were to come true, I would be at your side right away
There would be nothing I couldn’t do
I would put everything on the line and hold you tight

If I just wanted to avoid loneliness, anybody would have been enough.
Because the night looks like the stars will fall, I cannot lie to myself.
One more time, oh seasons, fade not.
One more time, when we were messing around

I’m always searching, for your figure to appear somewhere
At a street crossing, in the midst of dreams
Even though I know you couldn’t be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning, who I’ll be from now on
And the words I never said: “I love you.”

The memories of summer are revolving
The throbbing which suddenly disappeared

I’m always searching, for your figure to appear somewhere
At dawn on the streets, at Sakuragi-cho
Even though I know you couldn’t be at such a place
If my wish were to come true, I would be at your side right away
There would be nothing I couldn’t do
I would put everything on the line and hold you tight

I’m always searching, for fragments of you to appear somewhere
At a traveller’s store, in the corner of newspaper,
Even though I know you couldn’t be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning, who I’ll be from now on
And the words I never said: “I love you.”

I always end up looking for your smile, to appear somewhere
At the railroad crossing, waiting for the express to pass
Even though I know you couldn’t be at such a place
If our lives could be repeated, I would be at your side every time
I would want nothing else
Besides you, nothing else matters

Romaji:

Kore ijou nani wo ushinaeba kokoro wa yurusareru no
Dore hodo no itami naraba mou ichido kimi ni aeru
One more time kisetsu yo utsurowanaide
One more time fuzake atta jikan yo

Kuichigau toki wa itsumo boku ga saki ni oreta ne
Wagamama na seikaku ga naosara itoshiku saseta
One more chance kioku ni ashi wo torarete
One more chance tsugi no basho wo erabenai

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Mukai no hoomu rojiura no mado
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no moto e
Dekinai koto wa mou nanimo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo

Sabishisa magirasu dake nara
Dare demo ii hazu na no ni
Hoshi ga ochisou na yoru dakara
Jibun wo itsuwarenai
One more time kisetsu yo utsurowanaide
One more time fuzake atta jikan yo

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Kousaten demo yume no naka demo
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Kiseki ga moshimo okoru nara im sugu kimi ni misetai
Atarashii asa kore kara no boku
Ienakatta suki to iu kotoba mo

Natsu no omoide ga mawaru fui ni kieta kodou

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Akegata no machi sakuragichou de
Konna toko ni kuru hazu mo nai no ni
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no moto e
Dekinai koto wa mou nanimo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no kakera wo
Tabisaki no mise shinbun no sumi
Konna toko ni aru hazu mo nai no ni
Kiseki ga moshimo okoru nara ima sugu kimi ni misetai
Atarashii asa kore kara no boku
Ienakatta suki to iu kotoba mo

Itsu demo sagashite shimau dokka ni kimi no egao wo
Kyuukou machi no fumikiri atari
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Inochi ga kurikaesu naraba nandomo kimi no moto e
Hoshii mono nado mou nanimo nai
Kimi no hoka ni taisetsu na mono nado

 

Kombinasi malam yang tenang, lagu dengan lirik yang dalam. berhasil membuat saya galau berhari-hari.

Bagi sebagian orang mungkin post saya ini irritating. Terkesan galau, ya memang.. karena saya melankolis plegmatis. Bagi saya, itu tidak mengapa karena galau biasanya jadi sumber inspirasi. Selain itu, setiap orang punya selera masing-masing. Saya hanya berharap postingan saya bisa bermanfaat.

Seperti kata orang bijak, menulis itu adalah salah satu cara menyalurkan perasaan. Inilah tulisan yang saya buat.

Advertisements

Get busy living or get busy dying

“Yang aku takutkan untuk masa depanku bukanlah kekurangan harta atau keluarga melainkan hidup tanpa nilai. Hidup biasa bersama milyaran manusia lain berjuang dalam ‘perlombaan tikus’ yang tidak akan pernah berakhir kecuali karena kematian atau kemauan.”

Quote di atas sesungguhnya adalah cerminan kekhawatiran yang menyelimuti diri ini. Sudah 3 tahun waktu terlewati. Peristiwa demi peristiwa terjadi. Hari berganti hari, jatah usia yang ada semakin berkurang. Umur semakin bertambah. Segala sesuatu tentu berubah seiring berjalannya waktu. Diri ini sekarang tidak sama lagi seperti diri ini satu tahun yang lalu. Namun, dari semua perubahan yang terjadi ada satu hal yang tetap sama. Kekhawatiran akan masa depan.Kekhawatiran yang muncul adalah muara dari dua dimensi. Kesedihan atas kekurangan usaha dan manfaat atas waktu yang telah dilalui dan ketakutan akan kondisi yang sewaktu-waktu bisa mengubah diri menjadi lebih buruk tanpa disadari.

Aku selalu percaya bahwa ada makna di balik kehidupan ini. Tidaklah mungkin bumi dan langit yang  kompleks ini diciptakan untuk sesuatu hal yang sia-sia. Termasuk kehidupan yang ada di dalamnya. Tidaklah mungkin kehidupan seorang manusia dirancang sedemikian rupa dengan rencana terbaik hanya untuk hal yang sia-sia.

Perasaan sedih menyelimuti saat kucoba memperhatikan pola kehidupan manusia. Manusia kini sudah seperti tanpa nyawa. Sistem sosial yang ada memaksa kita mengikuti aturan yang dibuat oleh  masyarakat yang dengan seenaknya memberikan stereotipe bagi manusia. Bahkan untuk melakukan kebaikan sederhana pun orang-orang mencibir.

Untuk menjadi seseorang yang hidup dengan cara yang baik ibarat mimpi buruk yang menjadi kenyataan di masa kini. Kita berharap semua rasa sakit itu akan hilang seiring dengan terbangunnya kita dari tidur. Akan tetapi, ini semua adalah nyata. Ketika kita harus bertahan membela idealisme dan kehormatan atau menyerah kalah pada kemauan manusia-manusia yang tidak mengerti. Seperti yang dikatakan oleh tokoh Andy Dufresne dalam Shawshank Redemption, “I guess it comes down to a simple choice, really.. Get busy living, or get busy dying.”

“Get busy living or get busy dying.” Mana yang akan kita pilih?

Do You See The Problem?

“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan mengenai apa yang telah dipersiapkannya untuk esok hari.”(Al Hasyr 18)”

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan oleh manusia muda adalah berhenti belajar setelah proses akademik selesai.” (Sebuah artikel)”

“Pandanglah masalah bukan sebagai hambatan, tapi sebagai sebuah kesempatan pembelajaran. Munculnya masalah berarti peluang bagi perbaikan.” (Dikutip dari buku Toyota Culture)

“Setiap permasalahan menimbulkan konflik, tetapi jangan pernah menghindarinya karena dari konflik kita belajar sesuatu.” (Pak Tota Simatupang, -dgn sedikit perubahan)”

Keempat quotes tersebut merupakan salah satu hal yang sejujurnya baru saya pahami di semester 6 (7 dan 8, again, late post). Walaupun kenyataannya melakukan keempat hal tersebut adalah hal yang sulit dilakukan. Cara berpikir saya terhadap masalah berubah 180 derajat. Pemahaman itu memberikan perasaan lebih positif saat menghadapi masalah dan juga kedewasaan dalam menghadapinya.

Harus saya akui bahwa mayoritas orang lebih suka lari dari masalah (termasuk saya), sadar atau tidak sadar. Kenapa? Karena hal tersebut lebih mudah untuk dilakukan, menjauh dari ketakutan, tetap berada di zona nyaman, mempertahankan status quo, hidup jadi lebih nyantai tanpa masalah. Benarkah?

Faktanya, lari dari masalah tidak menghilangkan perasaan ketakutan tersebut. Perasaan tersebut justru semakin berlipat ganda karena ditambah dengan perasaan bersalah karena lari dari kenyataan. Seringkali, masalah tersebut berulang dan menambah perasaan bersalah lagi dalam diri kita.

Ada sebuah istilah menarik dalam bahasa Jepang terkait belajar dari masalah, yaitu saihatsu boshi. Secara literatif, saihatsu boshi berarti mencegah terjadinya pengulangan. Artinya adalah bagaimana agar kita belajar dari kesalahan dan menjamin agar kesalahan tersebut tidak diulangi. Bagi orang Jepang adalah hal yang sangat tidak diterima jika kita melakukan kesalahan yang sama berkali-kali. (Rochelle Kopp, “Saihatsu boshi, key to japanese problem solving”). Oleh sebab istilah ini lah, banyak orang yang menganggap bekerja di perusahaan Jepang perlu perfeksionis, tidak seperti perusahaan dari Amerika misalnya yang lebih toleran terhadap kesalahan. Yap, untuk hal belajar lebih baik dari kesalahan memang kita perlu belajar dari bangsa yang satu ini–Jepang

Tahap pertama dari saihatsu boshi adalah mencari penyebab atau akar dari masalah. Akan tetapi, hal ini seringkali kita hindari. Terkadang di dalam kehidupan sehari-hari kita, membahas sebuah permasalahan (terutama jika terlibat dalam masalah tersebut) adalah suatu aib yang tabu untuk dibicarakan. Demi menjaga keharmonisan, kita lebih memilih menguburnya dan menganggap masalah tersebut tidak pernah terjadi. Pembelajaran dari masalah pun tidak terjadi.

Pada akhirnya sebagai manusia kita harus menyadari bahwa masalah dan konflik akan selalu hadir dalam kehidupan kita. Baik atau buruk pengaruh yang diberikan masalah tersebut bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Apakah menjadikannya sebagai bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik atau membiarkannya tetap menjadi kenangan buruk yang tersimpan.It’s up to you.

Every choice comes with it’s consequences.

Genchi Genbutsu (Go and See For Yourself)

Hari Rabu kemarin (yes, this is a delayed post for almost 6 months) saya berkesempatan untuk melakukan site-visit sebagai bagian dari proyek interdisplin di fakultas. Ya.. jika dibandingkan dengan teman-teman dari topik lain memang tempatnya tidak terlalu jauh dan juga tak sebagus yang lain toh tempat yang saya kunjungi adalah TPA. Tepatnya adalah TPA Sarimukti yang berlokasi di Cipatat, Kab. Bandung Barat.

Jalanan yang sempit, namun ramai menjadi pemandangan perjalanan. Dan tentunya gunung-gunung kapur yang menjulang tinggi seperti gedung pencakar langit di tengah hutan, penuh dengan debu kapur yang menyelimuti udara di sepanjang perjalanan.

Perjalanan melihat langsung ke lapangan adalah hal yang membukakan mata karena memberikan berbagai insight dan inspirasi yang mungkin tidak akan muncul jika kita tidak merasakan dan melihatnya secara langsung.

Dan untuk perjalanan ini selain menyadari betapa kayanya sebuah fakultas bernama Fakultas Teknologi Industri yang membayarkan makan siang peserta survei lapangan, ada kesadaran tentang suatu fenomena, sampah.

Fenomena sampah adalah suatu yang unik. Bagaimana tidak, kita menganggap sampah adalah sesuatu yang kotor, yang menjijikan, atau minimal sesuatu yang harus diletakkan di sisi terjauh di pojokan rumah untuk kemudian dibuang di luar kota. Namun demikian, saya teringat firman Allah dalam Al Quran:“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.” (Ar-Ra’d 13)

Yap.  Pertanyaan yang timbul di pikiran saya adalah jika memang sampah adalah hal yang tidak berguna kenapa Allah tidak membuatnya hilang, sesuai dengan firmannya tersebut? Jika ia tetap ada di bumi artinya ia memiliki manfaat. Dan memang, sampah yang selalu ingin kita buang ini di TPA menunjukkan kebermanfaatannya. Pertama, banyak orang yang bergantung pada kehadiran sampah ini. Kita tentu tahu bahwa beberapa jenis sampah seperti plastik dapat dimanfaatkan kembali. Plastik inilah yang menjadi mata pencaharian bagi banyak pemulung di TPA ini. Menurut data yang dimiliki oleh TPA Sarimukti, ada sekitar 400 orang pemulung di tempat ini. Ada puluhan bandar, yang tempatnya berjejer rapi (walaupun kumuh) di dekat gerbang TPA Sarimukti. Itu untuk sampah anorganik. Kedua, Untuk sampah organik, bisa dimanfaatkan lagi untuk dibuat kompos. Ketiga, saat ini sudah memungkinkan untuk mengubah sampah yang ada baik organik maupun anorganik untuk dikonversi menjadi energi menggunakan gasifier. Dari sampah yang ingin dihindari menjadi sumber energi alternatif. That’s what I called “blessing in disguise”.

Sebuah perjalanan dan melihat lapangan secara langsung selalu memberikan gambaran dan pandangan hidup baru mengenai sesuatu. Dari perjalanan ini setidaknya saya mendapatkan pelajaran tambahan bahwa kita tidak cukup melihat sesuatu dari pandangan manusia biasa, terkadang kita perlu menggali lebih dalam dari sesuatu hal bahwa selalu ada hikmah dari kejadian yang diizinkan terjadi oleh Allah di dunia ini. Dan tentu saja saya berharap agar perjalanan ini merupakan perjalanan yang dapat meningkatkan iman saya. Itulah kenapa Allah dalam Al Qur’an menyuruh kita untuk berjalan di muka bumi serta untuk memperhatikan apa yang terjadi (tidak hanya melihatnya).Wallahu’alambishawwab

Resolusi 2015

Setelah beberapa lama, akhirnya hari ini (malam ini) memiliki kesempatan dan juga kemauan untuk menulis lagi.

Beruntungnya adalah blog ini blog pribadi, tidak begitu masalah jika tidak sering update. Hehe.

Tulisan saya kali ini bisa dibilang late post karena tanggal 22 Januari baru membicarakan resolusi tahun 2015. Setidaknya ini masih bulan Januari, bulan pertama. Walaupun baru ditulis, percayalah bahwa niat menulisnya sudah dari awal tahun. Haha.

Resolusi saya tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya resolusi saya berisi to do list yang banyak, aktivitas-aktivitas yang (bagi saya) keren. Maka tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Tahun ini saya berharap ada perubahan besar dalam kehidupan. Keinginan saya sederhana, tahun ini ingin menjadi lebih bermakna. Menjadi tahun yang baik dan berkah. Tahun yang penuh kebahagiaan.

Alhamdulillah… di akhir tahun 2014 saya teringatkan kembali akan sebuah ayat di Al Qur’an yang intinya mengajarkan bahwa Orang-orang yang mencari dunia akan mendapat apa yang diinginkannya, tapi tidak ada bagiannya di akhirat. Sedangkan bagi orang yang mencari akhirat, ia akan mendapatkan bagiannya di akhirat. Di dunia pun akan mendapat kebaikan.

Setelah mengalami beberapa tahun yang buruk belakangan ini. Akhirnya saya menyadari kesalahan saya terletak pada orientasi yang berubah hanya sebatas impian dunia. Bekerja keras untuk dunia tapi melalaikan hubungan saya dengan Allah. Hasilnya, bukan keberhasilan yang dicapai tapi justru kesempitan dalam hati yang semakin hari semakin sempit, di sisi lain impian tidak tercapai. Jika seperti itu, apa artinya kehidupan yang saya jalani?

Oleh karena itu, di tahun ini resolusi saya hanya satu dan sederhana. “Fokus pada akhirat”. That’s all.

Semoga Allah memberikan saya keteguhan untuk bersabar dalam menjalaninya.

Catatan Perjalanan

Ini merupakan tulisan sederhana tentang penggalan kehidupan penulis. Semata-mata dibuat untuk menyimpan kenangan serta hikmah dari perjalanan. Alhamdulillah.. Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk bisa pergi ke Bali. Tulisan ini tidak bercerita mengenai betapa indahnya Bali, bukan, tulisan ini bukan tentang itu. Tulisan ini hanya mencoba untuk menangkap makna dari perjalanan tersebut.
Hal menarik dari sebuah perjalanan adalah bagaimana manusia berinteraksi dengan perjalanan itu sendiri. Saya sendiri sejak awal bertekad bahwa perjalanan ini harus berbuah menjadi sebuah makna kehidupan yang berarti bagi saya. Bukan hanya sekedar liburan dan menghabiskan uang.
Hal sederhana yang saya sadari adalah kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bisa berlibur. Apalagi berlibur ke Bali. Ada yang memang tidak memiliki dana, tidak memiliki kesehatan, atau tidak memiliki waktu luang. Apalagi untuk berlibur yang dapat memberikan tambahan mengenai pemahaman atas makna kehidupan. Oleh karena itu, pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah bahwa bisa berlibur adalah nikmat dari Allah yang tidak boleh disiakan.
Memandangi langit yang cerah menaungi laut yang terhampar luas menjadi bagian yang paling saya senangi selama perjalanan tersebut. Hal itu membuat diri merinding karena seolah disentak oleh Allah melalui kekuasaan-Nya betapa manusia adalah makhluk yang amat kecil kemampuannya. Hembusan angin yang lembut, daratan hijau yang tertutup kabut, pertunjukkan warna jingga di langit saat matahari terbenam memberikan kesan tersendiri. Suatu pengalaman luar biasa yang sederhana tapi begitu membekas di hati. Bukan Bali-nya, tapi bagaimana alam begitu harmonis sehingga mampu menciptakan keindahan tersendiri bagi yang melihatnya. Memberikan kesan damai dan tenang, memberikan kebahagiaan kepada siapapun yang dapat menikmatinya. Keharmonisan tersebut seolah mengingatkan kita untuk bijak dalam mengelola tanah yang kita berpijak di atasnya, langit yang kita hidup di bawahnya.
Memahami perbedaan budaya membuat saya bersyukur sebagai seorang muslim. Betapa kehidupan sebagai seorang muslim menghindarkan saya dari kekhawatiran dan keresahan yang tidak perlu. Melihat bagaimana pusat hiburan di Bali, saya bersyukur bahwa Islam telah menutup segala pencarian dan kekhawatiran agar tidak berujung pada hal yang buruk. Alhamdulillah.. Entahlah, entah bagaimana hubungannya perjalanan ke Bali justru membuat saya semakin bersyukur karena saya seorang muslim. Terlalu banyak hal di kepala ini yang sulit untuk diterjemahkan dalam kata-kata.
Alhamdulillah.. Perjalanan ini bagi saya merupakan salah satu perjalanan terbaik karena telah memberikan banyak pelajaran yang membuat diri ini menjadi lebih bijaksana. Alhamdulillah.

Blog Lama, Semangat (dan niat) Baru

Alhamdulillah… Akhirnya bisa menemukan blog wordpress saya ini. Blog yang alamatnya sudah dibuat sejak bertahun-tahun yang lalu, waktu masih jaman SMA.

Ketemunya blog ini pun sebenarnya ga sengaja. Awalnya karena disuruh temen untuk pindah blog dari blogspot ke wordpress. Dan saya ingat kalo saya sudah punya blog di wordpress tapi tidak terurus, ilhammuhammad003.wordpress.com (udah dihapus sama saya kemarin). Pas ngetik di bar search, ternyata saya salah ketik, saya ngetik tanpa pake ‘003’. Dan terbukalah blog ini.

Saya jadi teringat bahwa ini blog pertama saya dengan hanya berisi 2 pos. Karena namanya lebih simpel (nama saya gitu) saya memutuskan pake lagi blog yang ini. Tentunya dengan perjuangan mengingat password yang saya pakai. 5 tahun lalu.

Insyaa Allah postingan saya dari blog sebelumnya dipost di sini juga.

Semoga bermanfaat..