Langit Malam

Salah satu ciptaan Allah yang menjadi favorit saya adalah langit. Ya, langit yang dengan pergantian warnanya yang elegan selalu berhasil membuat saya terpana. Waktu paling favorit untuk melihat langit adalah malam yang cerah di mana saya bisa melihat bintang. Melihat langit malam adalah hal yang tidak pernah membuat saya bosan. Bahkan waktu SMA tidak jarang saya sengaja pulang malam karena ada spot di dekat rumah yang pada saat berjalan saya bisa melihat langit ke segala arah. Dan memandang langit adalah salah satu momen yang selalu membuat saya merasa terinspirasi.

Awal dari hobi saya ini dimulai sejak SMP, tepatnya 3 SMP. Saat itu, saya sering duduk di balkon lantai 2 rumah di malam hari. Ngapain? Duduk, sambil mendengarkan musik slow, mikir. Ya.. saya akui, itu salah satu hal yang menumbuhkan sifat melankolis yang makin dominan akhir-akhir ini. Dan saya bisa tahan hingga berjam-jam. Mikirin apa aja, mulai dari masalah sehari-hari, teman, soal-soal, ujian nasional, rencana ke depan dll. Di saat itu pula lah saya jadi lebih sering melihat langit malam. Dulu, pemandangannya belum tertutup seperti sekarang, view langit malam masih terlihat dengan bebas. Saya masih bisa melihat ada kincir angin biru yang ga jalan itu, lampu merah di atas gedung pt inti, pohon besar di dekat hubdam, lampu sorot acara di tegalega.

Keheningan, cahaya bintang, bulan, dan angin sepoi-sepoi yang dingin jadi teman merenung. Ketika hidup sedang ruwet, duduk di balkon sambil memandang langit adalah salah satu cara ampuh untuk memikirkan solusi. Ketika memandang langit saat itu, saya selalu berpikir betapa luasnya langit di hadapan saya ini, sejauh apa sebenarnya si langit ini? Begitu banyak benda-benda di langit tapi kok cukup. Dan itu semua bikin saya merinding karena saya sadar betapa kecilnya saya. Saat itu pun saya sering minta agar Allah menjadikan hati saya seluas langit, walaupun saya ga ngerti maksudnya apa.

Yang sering saya tunggu pada saat malam itu adalah beberapa gugus bintang yang terletak di langit sebelah kiri rumah saya. Kelompok bintang yang agak banyak akan terlihat dari balkon rumah di waktu yang agak larut. Gugusan itu bisa terlihat pada saat cuaca cerah. Ada perasaan bahagia saat bisa melihatnya. Ingin rasanya menjadi manusia setenang langit malam yang dalam heningnya memberikan inspirasi bagi para pencari. Menunjukkan keindahan lewat cara yang elegan.

Oh ya. Salah satu hal yang paling saya ingat adalah setelah saya merasa ngantuk dan bersiap untuk tidur. Sambil melihat ke langit, saya minta kepada Allah agar memberikan tidur yang tenang bagi orang-orang yang saya sayangi, bersyukur karena mengenal mereka, dan minta Allah untuk menjaga mereka.

Dan hari ini, saya pun melakukan itu lagi setelah sekian lama, meski tanpa musik dan pemandangan yang sudah tertutup. Tapi, dengan doa yang sama:

“Semoga Allah menjadikan hati saya seluas langit untuk rela atas setiap takdirNya”

“Semoga Allah memberikan tidur yang tenang bagi orang-orang yang saya sayang dan jaga mereka selalu dalam hidupnya.”

10 May

Kunci dari ketenangan dalam menjalani hidup adalah dengan memahami bahwa pada akhirnya kita akan kembali pada Allah.

Keyakinan ini menyadarkan kita akan sebuah gambaran besar mengenai kehidupan. Kita ini hanya seorang pengembara yang tengah berhenti untuk melengkapi perbekalan. Setiap hal baik dan hal buruk adalah bagian dari proses pembekalan.

Waktu yang berharga ini adalah pinjaman. Akan tiba saatnya kita menjelaskan bagaimana kita menggunakan pinjaman itu. Apa saja yang dibawa dengan pinjaman itu? Bagaimana kita menggunakannya?

Jika telah jelas semua itu, adakah lagi manusia tergila-gila dengan dunia?

Get busy living or get busy dying

“Yang aku takutkan untuk masa depanku bukanlah kekurangan harta atau keluarga melainkan hidup tanpa nilai. Hidup biasa bersama milyaran manusia lain berjuang dalam ‘perlombaan tikus’ yang tidak akan pernah berakhir kecuali karena kematian atau kemauan.”

Quote di atas sesungguhnya adalah cerminan kekhawatiran yang menyelimuti diri ini. Sudah 3 tahun waktu terlewati. Peristiwa demi peristiwa terjadi. Hari berganti hari, jatah usia yang ada semakin berkurang. Umur semakin bertambah. Segala sesuatu tentu berubah seiring berjalannya waktu. Diri ini sekarang tidak sama lagi seperti diri ini satu tahun yang lalu. Namun, dari semua perubahan yang terjadi ada satu hal yang tetap sama. Kekhawatiran akan masa depan.Kekhawatiran yang muncul adalah muara dari dua dimensi. Kesedihan atas kekurangan usaha dan manfaat atas waktu yang telah dilalui dan ketakutan akan kondisi yang sewaktu-waktu bisa mengubah diri menjadi lebih buruk tanpa disadari.

Aku selalu percaya bahwa ada makna di balik kehidupan ini. Tidaklah mungkin bumi dan langit yang  kompleks ini diciptakan untuk sesuatu hal yang sia-sia. Termasuk kehidupan yang ada di dalamnya. Tidaklah mungkin kehidupan seorang manusia dirancang sedemikian rupa dengan rencana terbaik hanya untuk hal yang sia-sia.

Perasaan sedih menyelimuti saat kucoba memperhatikan pola kehidupan manusia. Manusia kini sudah seperti tanpa nyawa. Sistem sosial yang ada memaksa kita mengikuti aturan yang dibuat oleh  masyarakat yang dengan seenaknya memberikan stereotipe bagi manusia. Bahkan untuk melakukan kebaikan sederhana pun orang-orang mencibir.

Untuk menjadi seseorang yang hidup dengan cara yang baik ibarat mimpi buruk yang menjadi kenyataan di masa kini. Kita berharap semua rasa sakit itu akan hilang seiring dengan terbangunnya kita dari tidur. Akan tetapi, ini semua adalah nyata. Ketika kita harus bertahan membela idealisme dan kehormatan atau menyerah kalah pada kemauan manusia-manusia yang tidak mengerti. Seperti yang dikatakan oleh tokoh Andy Dufresne dalam Shawshank Redemption, “I guess it comes down to a simple choice, really.. Get busy living, or get busy dying.”

“Get busy living or get busy dying.” Mana yang akan kita pilih?