Perbandingan

Kehidupan seorang manusia tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial dimana ia berada. Percaya atau tidak, lingkungan sangat berpengaruh terhadap karakter, hobi, cita-cita, dan perasaan manusia itu sendiri. Kita tidak bisa dilepaskan dari berbagai macam interaksi sosial yang kita lakukan dengan orang lain. Kita mungkin punya keinginan yang kita anggap adalah misi pribadi. Namun, secara tidak sadar keinginan itu pun sesungguhnya cerminan dari apa yang dianggap ideal di lingkungan sosial kita atau setidaknya hal ideal tersebut muncul dari refleksi kita terhadap lingkungan sosial yang kita berada di dalamnya.

Terlebih lagi di masa kini, ketika informasi secara terbuka dapat diakses dengan mudah. Kita bisa mengenal siapapun yang kita ingin, mengetahui kehidupan seseorang tanpa perlu mengenalnya, dan segala macam hal lainnya. Teknologi telah membuat kehidupan kita jauh lebih terkoneksi satu sama lain. Yup, memang banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan kehidupan orang lain. Namun demikian, kita seringkali salah fokus pada akhirnya. That’s true that we learn some lesson from their life (full-conciousness), but don’t forget about what they have (underconciousness). Ya.. kita seringkali terjebak dengan apa yang dimiliki oleh orang lain tersebut. Hal tersebut manusiawi, membandingkan dengan orang lain apa yang kita punya dan mereka punya.

Sayangnya, perbandingan ini sering mengarah pada perasaan tidak percaya diri, agak lebih buruk jadi rendah diri, lebih buruk lagi jadi merasa hidup yang dijalani serasa ga ada artinya, ga bersyukur akhirnya stress sendiri. Secara tidak sadar akhirnya kehidupan kita “berhenti”.

“Wah.. Dia bisa kuliah di Belanda, saya mah apa Cuma gini-gini aja”

“Wah.. kerenlah langsung nikah abis wisuda”

“Wah si akang luar biasa, kaya banget”

“Anaknya udah dua lagi ya.. kembar, lucu-lucu”

“Wah udah kerja ya.. di **** gajinya 50000 dolar setahun”

“Gelo.. Ipnya 4, pinter pisan. Otakna ti naon sih..”

Dan masih banyak lagi…

Di awal kita apreciate, lama-lama di dalam diri saya yang muncul jadi perbandingan kehidupan orang dengan yang saya jalani. (hanya mencoba jujur) Dan itu membuat saya berangan-angan. Kalo angan-angan, sudah pasti kehidupan asli terhenti. Akhirnya saya jadi tak puas dengan kehidupan yang saya punya. Dan mulai bertanya-tanya, kenapa saya punya nasib yang beda. Astagfirullah..

Perbandingan-perbandingan memang adalah suatu hal yang secara alami ada dalam diri manusia. Anehnya adalah, kita sering ga terlalu suka dan sangat berhati-hati ketika membandingkan seorang anak kecil yang satu dengan yang lain. Karena kita tahu, hal itu dapat bikin sang anak jadi rendah diri. Anehnya adalah kita membandingkan diri kita dengan kehidupan orang lain. yang secara logis kita sadar, PASTI BEDA.

Bagi saya pribadi, saya akhirnya muak dengan diri saya yang membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Dan saya bilang dalam hati,”sejak kapan jalan hidup lo harus sama kaya hidup temen lo” “Happiness is state of mind, not state of things”. Sejak itu, saya tersadar, temen saya yang dalam pandangan saya punya kehidupan yang amazing, tetap saja ga punya kehidupan amazing yang saya miliki. Setiap orang punya jalan hidup yang unik masing-masing. Pelajari bagaimana mereka mengatasi permasalahan mereka, tapi bukan apa yang mereka punya. Mentor terdahulu saya pernah bilang,”Kalo kalian mau bandingin, jangan bandingin diri kalian sama saya (karena saya bisa berubah). Tapi sama orang yang jelas ga akan berubah lagi, yaitu orang yang udah mati”

Saya selalu bilang sama seorang sahabat,”Sabar aja, semua ada jalan masing-masing”. Faktanya, saya lebih butuh kata-kata itu untuk saya sendiri.

Saya pun memutuskan untuk bikin hidup yang saya miliki amazing dengan cara sendiri (dalam batasan agama tentunya). It’s not easy, tapi saya selalu punya keyakinan bahwa setiap orang lahir di dunia ini dengan perannya tersendiri. Oleh karena itu, jalan kehidupan setiap orang jadi berbeda karena toh kita pun akan punya masa depan yang berbeda pada akhirnya. Tinggal yakin dan optimis bahwa Allah mempersiapkan dan membuat saya berjalan di jalan yang saya lalui saat ini semata-mata karena Allah menyiapkan saya untuk suatu skenario masa depan yang memang hanya diperuntukkan bagi saya. Sesuai dengan sebuah frasa favorit saya,”Sebuah rencana yang kompleks tapi indah yang dipersiapkan oleh Yang Maha Merencanakan”.

So,let’s begin our own life…

 

Wallahu’alambishawwab

Obat Anti Galau

Untuk terakhir di hari ini, (real post hari ini). Saya ingin berbagi sebuah lagu. Yup, lagu slow berbahasa Jepang. Judulnya One More Time, One More Chance oleh Masayoshi Yamazaki. Lagu ini dirilis pada tahun 1997. Lagu ini jadi booming setelah dijadikan soundtrack sebuah anime berjudul 25 cm per seconds yang ceritanya dibuat oleh Makoto Shinkai. Saya sendiri belum nonton filmnya, baru baca sinopsisnya. Dan lagu ini cukup sesuai dan mewakili anime tersebut.

Lagu ini tiba-tiba muncul di youtube setelah saya salah pilih video di youtube waktu Sabtu malam sekitar jam 11an. Saat mendengar lagunya, nadanya lumayan enak didengar. Dan pas nyari liriknya. Somehow, liriknya pas banget dan menyentuh. Daripada saya ceritakan tentang apa, lebih baik saya kasih aja videonya..

 

Lirik (romaji dan english), ga saya terjemahkan ke bahasa Indonesia karena dengan skill saya takutnya malah jadi ga pas. romaji dan translasi bahasa inggris kredit untuk uta-net.

English:

How much more do I have to lose, before my heart is forgiven?
How many more pains do I have to suffer, to meet you once again?
One more time, oh seasons, fade not
One more time, when we were messing around

Whenever we disagreed, I would always give in first
Your selfish nature made me love you even more
One more chance, the memories restrain my steps
One more chance, I cannot choose my next destination

I’m always searching, for your figure to appear somewhere
On the opposite platform, in the windows along the lane
Even though I know you couldn’t be at such a place
If my wish were to come true, I would be at your side right away
There would be nothing I couldn’t do
I would put everything on the line and hold you tight

If I just wanted to avoid loneliness, anybody would have been enough.
Because the night looks like the stars will fall, I cannot lie to myself.
One more time, oh seasons, fade not.
One more time, when we were messing around

I’m always searching, for your figure to appear somewhere
At a street crossing, in the midst of dreams
Even though I know you couldn’t be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning, who I’ll be from now on
And the words I never said: “I love you.”

The memories of summer are revolving
The throbbing which suddenly disappeared

I’m always searching, for your figure to appear somewhere
At dawn on the streets, at Sakuragi-cho
Even though I know you couldn’t be at such a place
If my wish were to come true, I would be at your side right away
There would be nothing I couldn’t do
I would put everything on the line and hold you tight

I’m always searching, for fragments of you to appear somewhere
At a traveller’s store, in the corner of newspaper,
Even though I know you couldn’t be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning, who I’ll be from now on
And the words I never said: “I love you.”

I always end up looking for your smile, to appear somewhere
At the railroad crossing, waiting for the express to pass
Even though I know you couldn’t be at such a place
If our lives could be repeated, I would be at your side every time
I would want nothing else
Besides you, nothing else matters

Romaji:

Kore ijou nani wo ushinaeba kokoro wa yurusareru no
Dore hodo no itami naraba mou ichido kimi ni aeru
One more time kisetsu yo utsurowanaide
One more time fuzake atta jikan yo

Kuichigau toki wa itsumo boku ga saki ni oreta ne
Wagamama na seikaku ga naosara itoshiku saseta
One more chance kioku ni ashi wo torarete
One more chance tsugi no basho wo erabenai

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Mukai no hoomu rojiura no mado
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no moto e
Dekinai koto wa mou nanimo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo

Sabishisa magirasu dake nara
Dare demo ii hazu na no ni
Hoshi ga ochisou na yoru dakara
Jibun wo itsuwarenai
One more time kisetsu yo utsurowanaide
One more time fuzake atta jikan yo

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Kousaten demo yume no naka demo
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Kiseki ga moshimo okoru nara im sugu kimi ni misetai
Atarashii asa kore kara no boku
Ienakatta suki to iu kotoba mo

Natsu no omoide ga mawaru fui ni kieta kodou

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Akegata no machi sakuragichou de
Konna toko ni kuru hazu mo nai no ni
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no moto e
Dekinai koto wa mou nanimo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no kakera wo
Tabisaki no mise shinbun no sumi
Konna toko ni aru hazu mo nai no ni
Kiseki ga moshimo okoru nara ima sugu kimi ni misetai
Atarashii asa kore kara no boku
Ienakatta suki to iu kotoba mo

Itsu demo sagashite shimau dokka ni kimi no egao wo
Kyuukou machi no fumikiri atari
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Inochi ga kurikaesu naraba nandomo kimi no moto e
Hoshii mono nado mou nanimo nai
Kimi no hoka ni taisetsu na mono nado

 

Kombinasi malam yang tenang, lagu dengan lirik yang dalam. berhasil membuat saya galau berhari-hari.

Bagi sebagian orang mungkin post saya ini irritating. Terkesan galau, ya memang.. karena saya melankolis plegmatis. Bagi saya, itu tidak mengapa karena galau biasanya jadi sumber inspirasi. Selain itu, setiap orang punya selera masing-masing. Saya hanya berharap postingan saya bisa bermanfaat.

Seperti kata orang bijak, menulis itu adalah salah satu cara menyalurkan perasaan. Inilah tulisan yang saya buat.

Resolusi 2015

Setelah beberapa lama, akhirnya hari ini (malam ini) memiliki kesempatan dan juga kemauan untuk menulis lagi.

Beruntungnya adalah blog ini blog pribadi, tidak begitu masalah jika tidak sering update. Hehe.

Tulisan saya kali ini bisa dibilang late post karena tanggal 22 Januari baru membicarakan resolusi tahun 2015. Setidaknya ini masih bulan Januari, bulan pertama. Walaupun baru ditulis, percayalah bahwa niat menulisnya sudah dari awal tahun. Haha.

Resolusi saya tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya resolusi saya berisi to do list yang banyak, aktivitas-aktivitas yang (bagi saya) keren. Maka tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Tahun ini saya berharap ada perubahan besar dalam kehidupan. Keinginan saya sederhana, tahun ini ingin menjadi lebih bermakna. Menjadi tahun yang baik dan berkah. Tahun yang penuh kebahagiaan.

Alhamdulillah… di akhir tahun 2014 saya teringatkan kembali akan sebuah ayat di Al Qur’an yang intinya mengajarkan bahwa Orang-orang yang mencari dunia akan mendapat apa yang diinginkannya, tapi tidak ada bagiannya di akhirat. Sedangkan bagi orang yang mencari akhirat, ia akan mendapatkan bagiannya di akhirat. Di dunia pun akan mendapat kebaikan.

Setelah mengalami beberapa tahun yang buruk belakangan ini. Akhirnya saya menyadari kesalahan saya terletak pada orientasi yang berubah hanya sebatas impian dunia. Bekerja keras untuk dunia tapi melalaikan hubungan saya dengan Allah. Hasilnya, bukan keberhasilan yang dicapai tapi justru kesempitan dalam hati yang semakin hari semakin sempit, di sisi lain impian tidak tercapai. Jika seperti itu, apa artinya kehidupan yang saya jalani?

Oleh karena itu, di tahun ini resolusi saya hanya satu dan sederhana. “Fokus pada akhirat”. That’s all.

Semoga Allah memberikan saya keteguhan untuk bersabar dalam menjalaninya.