Do You See The Problem?

“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan mengenai apa yang telah dipersiapkannya untuk esok hari.”(Al Hasyr 18)”

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan oleh manusia muda adalah berhenti belajar setelah proses akademik selesai.” (Sebuah artikel)”

“Pandanglah masalah bukan sebagai hambatan, tapi sebagai sebuah kesempatan pembelajaran. Munculnya masalah berarti peluang bagi perbaikan.” (Dikutip dari buku Toyota Culture)

“Setiap permasalahan menimbulkan konflik, tetapi jangan pernah menghindarinya karena dari konflik kita belajar sesuatu.” (Pak Tota Simatupang, -dgn sedikit perubahan)”

Keempat quotes tersebut merupakan salah satu hal yang sejujurnya baru saya pahami di semester 6 (7 dan 8, again, late post). Walaupun kenyataannya melakukan keempat hal tersebut adalah hal yang sulit dilakukan. Cara berpikir saya terhadap masalah berubah 180 derajat. Pemahaman itu memberikan perasaan lebih positif saat menghadapi masalah dan juga kedewasaan dalam menghadapinya.

Harus saya akui bahwa mayoritas orang lebih suka lari dari masalah (termasuk saya), sadar atau tidak sadar. Kenapa? Karena hal tersebut lebih mudah untuk dilakukan, menjauh dari ketakutan, tetap berada di zona nyaman, mempertahankan status quo, hidup jadi lebih nyantai tanpa masalah. Benarkah?

Faktanya, lari dari masalah tidak menghilangkan perasaan ketakutan tersebut. Perasaan tersebut justru semakin berlipat ganda karena ditambah dengan perasaan bersalah karena lari dari kenyataan. Seringkali, masalah tersebut berulang dan menambah perasaan bersalah lagi dalam diri kita.

Ada sebuah istilah menarik dalam bahasa Jepang terkait belajar dari masalah, yaitu saihatsu boshi. Secara literatif, saihatsu boshi berarti mencegah terjadinya pengulangan. Artinya adalah bagaimana agar kita belajar dari kesalahan dan menjamin agar kesalahan tersebut tidak diulangi. Bagi orang Jepang adalah hal yang sangat tidak diterima jika kita melakukan kesalahan yang sama berkali-kali. (Rochelle Kopp, “Saihatsu boshi, key to japanese problem solving”). Oleh sebab istilah ini lah, banyak orang yang menganggap bekerja di perusahaan Jepang perlu perfeksionis, tidak seperti perusahaan dari Amerika misalnya yang lebih toleran terhadap kesalahan. Yap, untuk hal belajar lebih baik dari kesalahan memang kita perlu belajar dari bangsa yang satu ini–Jepang

Tahap pertama dari saihatsu boshi adalah mencari penyebab atau akar dari masalah. Akan tetapi, hal ini seringkali kita hindari. Terkadang di dalam kehidupan sehari-hari kita, membahas sebuah permasalahan (terutama jika terlibat dalam masalah tersebut) adalah suatu aib yang tabu untuk dibicarakan. Demi menjaga keharmonisan, kita lebih memilih menguburnya dan menganggap masalah tersebut tidak pernah terjadi. Pembelajaran dari masalah pun tidak terjadi.

Pada akhirnya sebagai manusia kita harus menyadari bahwa masalah dan konflik akan selalu hadir dalam kehidupan kita. Baik atau buruk pengaruh yang diberikan masalah tersebut bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Apakah menjadikannya sebagai bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik atau membiarkannya tetap menjadi kenangan buruk yang tersimpan.It’s up to you.

Every choice comes with it’s consequences.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s